Pernah melihat orang dewasa yang masih memiliki gigi susu? Ternyata, kondisi gigi susu tidak copot sampai dewasa memang bisa terjadi pada sebagian orang. Walaupun terlihat sepele dan tidak selalu menimbulkan rasa sakit, kondisi ini tetap perlu diperhatikan karena bisa berpengaruh pada susunan dan kesehatan gigi secara keseluruhan.
Dalam dunia kedokteran gigi, kondisi tersebut dikenal sebagai persistensi gigi susu. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari gigi permanen yang tidak terbentuk, tumbuh tidak pada tempatnya, sampai adanya gangguan pada proses pergantian gigi. Yuk kenali lebih jauh penyebab, dampak, dan pilihan perawatannya.
Apa Itu Gigi Susu?
Gigi susu merupakan gigi pertama yang tumbuh sejak masa kanak-kanak. Biasanya gigi mulai muncul ketika anak berusia sekitar enam bulan dan secara bertahap akan berganti dengan gigi permanen mulai usia enam tahun hingga sekitar 12 tahun.
Jumlah gigi susu pada anak umumnya sebanyak 20 buah. Walaupun nantinya akan digantikan, gigi susu punya fungsi yang cukup penting. Gigi ini membantu anak mengunyah makanan, berbicara, sekaligus menjaga ruang agar gigi permanen nantinya bisa tumbuh dengan baik.
Masalah muncul ketika gigi susu tidak tanggal sesuai waktunya. Dalam beberapa kasus, gigi tersebut bahkan masih bertahan hingga seseorang memasuki usia dewasa.
Mengapa Gigi Susu Bisa Tidak Copot Hingga Dewasa?
Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan gigi susu tetap berada di dalam mulut meskipun seharusnya sudah digantikan oleh gigi permanen.
1. Gigi Permanen Tidak Terbentuk
Salah satu penyebabnya adalah gigi permanen yang seharusnya menggantikan gigi susu ternyata tidak terbentuk. Kondisi ini dapat berkaitan dengan faktor genetik.
Karena tidak ada gigi permanen yang tumbuh dari bawah untuk mendorong gigi susu, gigi tersebut akhirnya tetap bertahan. Dalam kondisi tertentu, gigi susu bahkan bisa tetap digunakan hingga dewasa selama kondisinya masih sehat.
2. Gigi Permanen Tumbuh Tidak pada Tempatnya
Gigi permanen terkadang tumbuh dengan arah yang tidak sesuai. Akibatnya, gigi tersebut tidak memberikan tekanan yang cukup untuk membuat gigi susu tanggal.
Kondisi seperti ini bisa membuat gigi permanen tumbuh di belakang, di samping, atau pada posisi yang tidak semestinya. Jika dibiarkan, susunan gigi dapat menjadi kurang rapi.
3. Impaksi atau Kelainan Pertumbuhan Gigi
Gigi permanen juga bisa gagal muncul ke permukaan karena posisinya terlalu dalam atau tumbuh dengan arah yang salah. Kondisi ini dikenal sebagai impaksi.
Selain itu terdapat pula kelainan tertentu dalam proses pembentukan gigi yang dapat mengganggu pertumbuhan gigi permanen. Akibatnya, gigi susu tetap berada di tempatnya lebih lama dari seharusnya.
4. Pernah Mengalami Trauma atau Infeksi
Cedera pada gigi susu ketika masih kecil juga dapat mempengaruhi perkembangan gigi permanen di bawahnya. Begitu pula dengan infeksi yang tidak mendapatkan penanganan dengan baik.
Gangguan tersebut dapat mempengaruhi benih gigi permanen sehingga proses pertumbuhannya menjadi tidak normal.
Baca Juga: Urutan Erupsi Gigi Permanen
Apa Dampak Gigi Susu Tidak Copot Sampai Dewasa?
Gigi susu yang masih bertahan sampai dewasa dapat menimbulkan beberapa masalah, terutama jika kondisi gigi tersebut sudah tidak sehat.
Susunan Gigi Menjadi Berantakan
Gigi susu yang masih bertahan dapat mengganggu ruang yang seharusnya digunakan gigi permanen. Akibatnya, gigi bisa tumbuh berdesakan, miring, atau bertumpuk.
Kondisi tersebut juga bisa membuat proses membersihkan gigi menjadi lebih sulit. Sisa makanan dan plak akhirnya lebih mudah menumpuk di sela-sela gigi.
Gangguan pada Gigitan
Posisi gigi yang tidak sesuai dapat memengaruhi cara gigi atas dan bawah bertemu ketika menggigit. Kondisi ini disebut maloklusi.
Gangguan gigitan pada beberapa orang dapat membuat proses mengunyah kurang nyaman. Pada kondisi tertentu, masalah tersebut juga dapat berhubungan dengan rasa tidak nyaman pada area rahang.
Lebih Mudah Mengalami Karies
Dibandingkan gigi permanen, struktur gigi susu cenderung lebih rentan terhadap kerusakan. Jika gigi susu masih bertahan hingga dewasa dan kebersihan mulut kurang terjaga, risiko gigi berlubang dapat meningkat.
Karena itu, keberadaan gigi susu pada usia dewasa sebaiknya tetap dipantau, terutama jika mulai berubah warna, terasa sakit, atau mudah rapuh.
Mengganggu Penampilan
Ukuran gigi susu biasanya lebih kecil dibandingkan gigi permanen. Ketika masih berada di antara gigi dewasa, perbedaan ukuran tersebut dapat membuat susunan gigi terlihat kurang proporsional.
Bagi sebagian orang, kondisi ini mungkin cukup mengganggu rasa percaya diri ketika tersenyum atau berbicara.
Gigi Bisa Lepas Lebih Awal
Gigi susu yang bertahan sampai dewasa juga tidak selalu bisa bertahan selamanya. Jika kondisinya semakin rapuh atau mengalami kerusakan, gigi tersebut dapat menjadi goyang dan akhirnya tanggal.
Jika gigi yang hilang tidak mendapatkan pengganti, gigi di sekitarnya berpotensi bergeser dan fungsi mengunyah dapat ikut terganggu.
Cara Mengatasi Gigi Susu Tidak Copot Bahkan Sampai Dewasa
Penanganan gigi susu tidak copot sampai dewasa tidak bisa disamaratakan. Dokter gigi perlu melihat kondisi gigi, posisi gigi permanen, serta keadaan tulang dan jaringan di sekitarnya terlebih dahulu.
Pemeriksaan Rontgen
Rontgen gigi biasanya diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat gigi permanen di bawah gigi susu. Pemeriksaan ini juga membantu dokter melihat posisi gigi yang belum tumbuh.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter dapat menentukan apakah gigi susu perlu dicabut, dipertahankan, atau membutuhkan perawatan lainnya.
Pencabutan Gigi Susu
Jika gigi permanen sebenarnya sudah tersedia dan memiliki peluang untuk tumbuh dengan baik, dokter dapat mempertimbangkan pencabutan gigi susu yang masih bertahan.
Pada kondisi tertentu, pencabutan dapat dilanjutkan dengan perawatan ortodontik untuk membantu mengatur posisi gigi.
Perawatan Ortodontik
Jika gigi permanen tumbuh tidak pada posisi yang seharusnya, perawatan ortodontik seperti behel dapat menjadi salah satu pilihan. Tujuannya adalah membantu mengarahkan posisi gigi agar susunannya lebih baik.
Mempertahankan Gigi Susu
Tidak semua gigi susu yang bertahan sampai dewasa harus langsung dicabut. Jika gigi permanen pengganti memang tidak ada dan kondisi gigi susu masih baik, dokter dapat mempertimbangkan untuk mempertahankannya.
Perawatan seperti restorasi atau pemasangan crown dapat dilakukan jika bentuk dan kekuatan gigi perlu diperbaiki.
Implan atau Bridge
Jika gigi susu sudah rusak dan tidak memungkinkan untuk dipertahankan, dokter dapat mempertimbangkan penggantian gigi yang hilang. Salah satu pilihannya adalah implan atau bridge, tergantung kondisi masing-masing pasien.
Kapan Sebaiknya Periksa ke Dokter Gigi?
Kalau kamu masih memiliki gigi susu ketika sudah dewasa, sebaiknya jangan langsung panik. Namun kondisi tersebut tetap perlu diperiksa supaya dokter bisa mengetahui penyebabnya.
Pemeriksaan semakin penting jika gigi mulai terasa sakit, goyang, berubah warna, mudah rusak, atau mengganggu saat menggigit dan mengunyah.
Pemeriksaan juga dapat dilakukan jika kamu merasa ukuran gigi tersebut terlihat berbeda atau ingin mencari pilihan perawatan untuk memperbaiki penampilan gigi.
Kesimpulan
Gigi susu tidak copot sampai dewasa bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti tidak adanya gigi permanen pengganti, posisi gigi permanen yang tidak tepat, impaksi, hingga riwayat trauma atau infeksi. Walaupun tidak selalu menimbulkan masalah, kondisi ini tetap sebaiknya diperiksa agar dapat diketahui apakah gigi tersebut aman untuk dipertahankan atau membutuhkan perawatan.